
Bayangkan sebuah malam di mana dua perayaan keagamaan besar jatuh pada waktu yang bersamaan. Di satu sisi, ada umat Hindu yang sedang melaksanakan Catur Brata Penyepian; sebuah ritual menyepi di mana mereka tidak menyalakan lampu atau api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak bekerja (amati karya), dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan). Lingkungan menjadi gelap gulita dan sangat hening.
Di sisi lain, pada malam yang sama, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa keesokan harinya adalah tanggal 1 Syawal. Bagi umat Islam, malam tersebut adalah malam takbiran. Malam ini adalah momen kemenangan yang biasanya dirayakan dengan mengumandangkan takbir dari masjid ke masjid, yang kerap identik dengan suasana meriah dan suara yang bergema.
Secara logika, dua kegiatan ini tampak bertolak belakang. Yang satu menuntut keheningan dan kegelapan total, sementara yang lain identik dengan syiar yang bersuara dan penuh cahaya. Namun, mari kita lihat apa yang terjadi di lapangan. Di daerah-daerah dengan keberagaman yang kental, pertemuan dua hari raya ini justru jauh dari kata konflik, Bali misalnya.
Umat Islam yang merayakan malam takbiran tetap bisa melaksanakan ibadahnya, namun dengan penyesuaian yang sangat sederhana dan penuh empati. Gema takbir yang biasanya mengudara lewat pelantang suara luar (toa) masjid, malam itu dialihkan hanya menggunakan pengeras suara di dalam ruangan. Volumenya pun diatur sedemikian rupa agar syahdunya takbir tetap terasa bagi jemaah di dalam masjid, tanpa memecah keheningan malam Nyepi bagi umat Hindu di sekitarnya.
Lebih dari itu, mereka yang berangkat menuju masjid menanggalkan kendaraan bermotornya. Warga melangkah kaki dalam gelap, sering kali disapa dan dibantu kelancarannya oleh para pecalang (petugas keamanan adat Bali) atau aparat keamanan desa setempat yang sedang berpatroli memastikan keamanan malam Nyepi.
Mari kita lihat di tingkat akar rumput. Sebelum hari ini tiba, para pemuka agama, ketua RT, dan tokoh masyarakat sudah duduk bersama. Mereka berdiskusi dengan santai, mungkin sambil minum kopi atau teh. Diskusi ini tidak membahas keyakinan siapa yang paling benar, melainkan membahas teknis kehidupan bertetangga: “Bagaimana agar ibadah umat Islam tetap lancar, tapi Nyepi umat Hindu juga tidak terganggu?” Dari obrolan sederhana inilah lahir kesepakatan-kesepakatan warga yang sering kali jauh lebih efektif dibandingkan aturan formal. (Sumber: Muhammadiyah Bali telah berdiskusi bersama FKUB).
Pemandangan spesifik ini adalah contoh nyata bagaimana dua keyakinan bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengalahkan. Tidak ada pihak yang merasa kehilangan hak beragamanya. Umat Hindu tetap bisa khusyuk dalam sepinya Nyepi, dan umat Islam tetap bisa menyambut Idul Fitri dengan lantunan takbir yang penuh rasa syukur. Penyesuaian ini bukanlah bentuk kekalahan siapa pun, melainkan wujud nyata dari kedewasaan sosial.
Dari peristiwa spesifik yang damai ini, kita bisa menarik sebuah pemahaman yang lebih luas tentang apa itu toleransi di Indonesia. Di masyarakat umum, kata “toleransi” kadang terdengar seperti istilah berat yang hanya dibicarakan di televisi atau seminar. Padahal, wujud asli dari toleransi justru ada pada hal-hal kecil dan praktis di keseharian kita.
Toleransi bukanlah konsep yang rumit. Toleransi adalah ketika seorang tetangga bersedia memelankan suara televisinya saat tetangga sebelah sedang beribadah. Toleransi adalah tidak memarkir kendaraan sembarangan yang menghalangi jalan orang lain. Toleransi adalah saling mengirimkan makanan saat hari raya tiba, tanpa curiga.
Peristiwa malam Nyepi dan takbiran tadi mengingatkan kita pada prinsip dasar bernegara kita. Indonesia sejak awal memang dirancang sebagai rumah bersama untuk berbagai macam perbedaan. Kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan karena kita semua sama, tetapi justru karena para pendiri bangsa sadar betul bahwa kita sangat berbeda.
Gesekan di masyarakat biasanya hanya terjadi ketika ada ego yang tinggi dan rasa paling berhak atas ruang publik. Namun, ketika ruang publik itu dikelola dengan rasa empati, segala bentuk potensi perselisihan bisa diredam menjadi harmoni. Saat umat Islam menurunkan volume suara demi umat Hindu, mereka sedang mempraktikkan kasih sayang. Saat umat Hindu memberi jalan bagi umat Islam berjalan ke masjid di malam Nyepi, mereka sedang mempraktikkan rasa saling menghormati.
Pada akhirnya, kedamaian sejati di masyarakat kita tidak lahir dari keseragaman. Kedamaian itu lahir dari kemauan kita untuk saling mendengarkan, menurunkan ego, dan mengelola perbedaan dengan hati yang lapang. Sikap saling pengertian inilah yang menjadi perekat paling kuat bagi kita, memastikan bahwa betapapun berbedanya keyakinan yang kita peluk, kita tetap hidup rukun di bawah atap negara yang sama.
Penulis : Achmad Mahbuby, S. Pd., Gr

Bagus tulisannya
Tetap semangat menulis yaa
Siap Bundaaa