
Kakak: “Bunda, ayo buruan, sudah mau telat, nih!”
Bunda: “Sabar, Kakak, ini Adik minta dibikinkan susu dulu.”
Kakak: “Kan dia bisa minta sama Uti. Sudahlah, Bun.”
Bunda: “Adik, Adik ke rumah Uti saja, ya. Minta dibikinkan susu sama Uti, ya?”
Drama pagi pun berakhir dengan Kakak yang cemberut naik ke boncengan motor, Bunda dengan wajah agak panik karena hampir terlambat, dan pastinya si bungsu yang berlari ke rumah Uti dengan wajah cemberut. Tidak ada senyum di wajah mereka, hanya ada ketegangan di pagi hari yang seharusnya diawali dengan senyuman.
Sore hari sepulang kerja, drama baru dimulai. Bunda melihat si bungsu anteng bermain dengan temannya, sementara si Kakak beristirahat di kamar. Melihat ke sekeliling, setiap sudut rumah seolah melambai dan memanggil Bunda untuk segera dijamah. Lantai yang perlu disapu, serta cucian piring dan baju yang menggunung.
Ba’da Isya, selesai membereskan semuanya dan anak-anak sudah makan malam, ada pesan dari grup kelas yang sedikit menyita perhatian. Si bungsu yang ingin mendekat pun urung karena Bunda sudah bilang, “Sebentar, ya, Bunda ada urusan kerjaan, jangan diganggu.”
Usai dengan masalah sekolah, si Kakak minta diajari tugas rumah. Adik sudah asyik lagi bermain dengan ponselnya. Belum selesai mendampingi Kakak belajar, Adik sudah merengek minta ditemani tidur.
Di hari itu, kewajibanku dalam pekerjaan bisa dibilang sukses. Dalam ibadah mungkin hanya setengah sukses, karena tak jarang tidak kurasakan ketenangan dalam ibadahku. Sedangkan kewajibanku dalam keluarga? Aku merasa gagal, apalagi jika kulihat si bungsu. Pernah suatu hari, di saat libur sekolah. Bangun tidur, di atas kasur dia bertanya, “Bunda hari ini libur nggak?”
“Libur dong, Sayang.”
“Ye… ayo kita gojekan, aku seneng kalau gojekan sama Bunda.”
Air mataku menetes, satu kalimat yang menyadarkanku dan menimbulkan berbagai pertanyaan. “Untuk siapa aku bekerja?” Jawabannya untuk anakku. Untuk apa aku bekerja? Supaya dapat uang, bisa mengajak mereka main di luar, dan mereka senang. Artinya, kalau tidak ada uang, tidak bisa jalan-jalan, anakku tidak senang. Itulah yang aku pikirkan, sehingga aku menempatkan pekerjaanku di atas segalanya. Dan ternyata, aku salah.
Ucapan si bungsu menyadarkanku, mengembalikanku pada realita bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Mengapa aku lupa kalau Allah Swt sudah menjanjikan dalam kitab-Nya Surah Hud ayat 6: “Dan tidak ada di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezeki”. Anak-anak tidak butuh uang kita banyak, tapi mereka butuh kehadiran kita. Diri kita bukan robot yang bisa diperas tenaganya sampai habis, kita juga butuh waktu untuk menghargai dan berterima kasih pada diri sendiri.
Lalu aku mencoba untuk berbenah diri, kutanamkan dalam diriku bahwa aku adalah seorang aktris yang dipilih oleh Allah Swt. untuk menjalankan skrip-Nya. Tentunya Tuhan memilihku karena Dia tahu aku mampu menjalani peranku dengan segala ujian-Nya. Ketika aku dianggap mampu berarti Dia pasti sudah membekaliku. Jadi, ketika Dia yang menciptakanku sudah yakin aku mampu dan sudah membekaliku, maka apa yang harus aku khawatirkan?
Ternyata yang aku khawatirkan adalah hari esok, dan apalagi kalau bukan uang. Dengan gajiku sebagai seorang guru, apa aku sanggup membiayai sekolah 2 anak di pondok? Dan biaya sekolah adiknya di madrasah? Belum lagi biaya makan dan kebutuhan lainnya? Kalau aku keluarkan kalkulator, pastilah minus besar.
Tapi ketika aku mengingat kembali janji Tuhanku bahwa Dia telah mengatur rezekiku dan anak-anakku, lalu aku kuatkan dengan keyakinan dari sebuah hadis qudsi dari Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah ﷻ berfirman, ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di tengah sekumpulan orang, Aku akan menyebutnya di tengah makhluk yang lebih baik dari kumpulan itu. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekatinya satu depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan biasa, Aku datang kepadanya dengan berlari.'”
Dengan bekal keyakinan ini, kumulai hariku dengan senyum. Kukerjakan tugasku sebagai guru dengan semangat tanpa beban pikiran mencari pekerjaan tambahan. Sepulang sekolah, kusapa si bungsu dan sebentar menemaninya. Sekitar jam 5 sore kurapikan rumah sambil mengajak anak-anak untuk membantu, paling tidak merapikan barang mereka sendiri. Jika mereka tidak mau, kuajak lagi dengan sabar dan senyum. Aku belajar untuk tidak marah-marah dan harus selalu bahagia. Karena seperti hukum frekuensi, ketika kita bahagia maka hanya akan ada kebahagiaan dan hal positif yang mendatangi kita. Sebaliknya, ketika kita marah maka energi negatif yang keluar dari diri kita akan mengundang hal-hal buruk atau kesialan kepada kita. Jadi, mari kita terima peran kita di dunia ini dengan ikhlas dan bahagia, dengan begitu kita akan mudah menjalaninya. Selamat menjalankan peran kita masing-masing, semoga sukses!
Penulis : Dewi Masitoh
Editor : Achmad Mahbuby
