BOLON – Masa Taaruf Murid Madrasah (Matamuda) bagi siswa baru kelas 1 di MIM Digdaya Bolon pada Kamis (09/07/2026) menghadirkan konsep adaptasi awal yang sarat makna. Rangkaian acara pengenalan lingkungan sekolah ini mengajak para murid untuk langsung berinteraksi dengan tanah melalui kegiatan menanam.

Di MIM Digdaya Bolon, aktivitas menanam dirancang melampaui sekadar keterampilan berkebun dasar. Kegiatan ini menjadi media pendidikan karakter seumur hidup yang menyentuh lima esensi fundamental perkembangan anak:

1. Esensi Akhlak & Spiritual: Belajar Tawadhu’ dan Tawakkal

Saat memasukkan benih ke dalam tanah, anak-anak diajak memahami sebuah prinsip keimanan mendalam: manusia hanya bertugas menanam, namun Allah SWT yang menumbuhkan. Hal ini merupakan implementasi langsung dari pemahaman QS. Al-Waqi’ah ayat 63-64. Melalui proses ini, anak diajarkan untuk tidak sombong saat panen melimpah, dan tidak mudah putus asa ketika prosesnya gagal. Pada dasarnya, madrasah sedang menanamkan iman, bukan sekadar menanam sayuran.

2. Esensi Karakter: Membentuk Pribadi Sabar, Disiplin, dan Bertanggung Jawab

Proses bertani secara alamiah melatih kesabaran, karena sebutir biji tidak bisa instan berubah menjadi pohon. Anak-anak juga belajar tentang tanggung jawab dan konsekuensi; jika mereka lupa menyiram, tanaman tersebut akan layu dan mati. Rutinitas memupuk, mencabut gulma, dan mengecek hama turut menumbuhkan kedisiplinan. Mereka belajar bahwa sebuah hasil yang besar selalu membutuhkan proses kecil yang dilakukan secara konsisten.

3. Esensi Ilmiah: Sains Melalui Experiential Learning

Alih-alih hanya mendengarkan teori, siswa melakukan praktik langsung. Mereka belajar tata cara membuka benih dari polybag kecil untuk dipindahkan ke media tanam yang telah disiapkan, lalu diakhiri dengan proses penyiraman. Anak-anak mengamati hukum alam secara langsung: kurang air membuat tanaman layu, sementara kelebihan air menyebabkannya membusuk. Pembelajaran sains berbasis pengalaman (experiential learning) ini dipastikan lebih melekat, baik di memori maupun di hati.

4. Esensi Sosial & Ekologi: Menumbuhkan Cinta Lingkungan

Dari sebutir benih, anak-anak belajar menghargai makanan. Mereka menyadari bahwa nasi dan sayur yang terhidang di meja makan tidak muncul begitu saja. Ada kerja keras petani, serta tanah dan air yang harus terus dijaga kelestariannya. Pemahaman ini diharapkan dapat menghentikan kebiasaan membuang-buang makanan, sekaligus memicu kepedulian untuk menjaga bumi, seperti tidak membuang sampah sembarangan hingga inisiatif membuat kompos dari sampah dapur.

5. Esensi Jiwa: Terapi Mental yang Sehat dan Bahagia

Berinteraksi langsung dengan tanah nyatanya menjadi terapi emosional yang sangat baik. Saat menyiram air atau mencabut gulma, fokus anak ditarik sepenuhnya pada “saat ini”. Aktivitas luar ruangan yang menyenangkan ini efektif mengurangi stres dan menstabilkan emosi. Kegiatan ini sekaligus menjadi alternatif sehat yang mengalihkan perhatian anak-anak dari layar gawai (gadget) ke keasrian alam.

Seluruh rangkaian Matamuda ini membuktikan bahwa pendidikan dasar yang holistik bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Seperti nilai tersirat yang disampaikan oleh Kepala Madrasah, Irin Dwi Susanti dalam kegiatan ini: “Kita tidak hanya sedang mengajarkan anak cara menanam. Kita sedang mengajarkan anak cara hidup.”

Editor: Achmad Mahbuby

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *