Menjelang hari raya, cobalah sesekali perhatikan layar ponsel kita. Notifikasi “Midnight Sale”, deretan tren baju lebaran terbaru, hingga godaan diskon kue kering silih berganti bermunculan. Tanpa sadar, kita merasa terdorong untuk terus membeli agar tidak tertinggal tren. Kita pun sering kali terjebak dalam sebuah ilusi, mengira bahwa kebahagiaan sejati di hari raya diukur dari seberapa banyak barang baru yang kita kumpulkan. Kita membayangkan bahwa ketenangan itu baru akan datang setelah semua isi keranjang belanja daring lunas terbayar.  

Namun, mari jujur pada diri sendiri. Membeli barang baru memang mendatangkan rasa senang, tetapi biasanya perasaan itu hanya bertahan sebentar. Setelah barang tersebut dipakai, rasa puasnya perlahan memudar dan kita justru kembali tergoda untuk membeli hal yang lain lagi. Menuruti keinginan belanja yang tak ada habisnya ini sering kali malah meninggalkan rasa hampa, membuat pikiran lelah, dan hati tidak tenang karena terus disibukkan oleh urusan duniawi. Di saat hati merasa bimbang antara ingin fokus beribadah atau tergoda berbelanja, ada satu rahasia ketenangan yang sering kita lupakan.  

Rahasia itu adalah memberi

Pernahkah kita merenungkan, mengapa memberi justru membuat hati terasa lebih damai dibandingkan membeli? Jawabannya sederhana: berbeda dengan belanja yang hanya memuaskan keinginan diri sendiri, memberi adalah tindakan mulia yang melampaui kepentingan pribadi. Saat kita berbagi dengan tulus, aliran rasa syukur dan kasih sayang seketika memenuhi hati. Kita diajak untuk melihat ke bawah, menyadari bahwa apa yang sering kita anggap “biasa saja” mungkin adalah doa dan nikmat yang sangat diimpikan oleh orang lain.  

Lebih dari itu, memberi adalah cara paling ampuh untuk meyakinkan diri sendiri bahwa, “Rezeki saya sudah cukup”. Keyakinan inilah yang perlahan menghapus rasa kurang, melatih jiwa kita agar tidak lagi merasa cemas berlebihan akan urusan duniawi maupun masa depan. Membagikan sebagian harta, makanan, atau waktu bukan sekadar membantu orang lain, melainkan cara kita membersihkan hati dari sifat kikir. Kebahagiaan dari menolong sesama ini melahirkan ketenangan batin yang jauh lebih dalam dan bertahan lama ketimbang sekadar memakai baju baru.  

Menjemput hari kemenangan tentu sah-sah saja diiringi dengan membeli kebutuhan lebaran. Namun, alangkah indahnya jika kita sedikit mengubah sudut pandangnya. Sebelum menekan tombol beli, tanyakan pada hati kecil: “Apakah saya benar-benar butuh, atau sekadar ikut-ikutan tren?”. Jika ada anggaran berlebih untuk barang yang kurang penting, cobalah alihkan sebagian untuk berbagi sembako atau memberi santunan. Ajaklah anak dan cucu untuk ikut berdiskusi dan memilih ke mana sedekah itu akan disalurkan. Langkah kecil ini akan menciptakan suasana rumah yang penuh berkah dan kasih sayang. Percayalah, melihat senyuman hangat dari mereka yang kita bantu jauh lebih indah daripada memiliki barang bermerek apa pun.  

Idul Fitri pada hakikatnya adalah momen bagi kita untuk kembali pada kesucian. Dan kesucian hati itu akan sangat sulit kita raih jika pikiran hanya dipenuhi dengan tumpukan barang belanjaan. Ketenangan sejati di pengujung bulan Ramadhan tidak pernah bersembunyi di dalam tas belanja yang penuh, melainkan lahir dari kedua tangan yang terbuka ikhlas untuk merangkul sesama.  

Ketahuilah, apa yang kita makan pada akhirnya akan habis, dan apa yang kita pakai pasti akan usang. Namun, apa yang kita berikan dengan ikhlas akan menjelma menjadi cahaya yang menenangkan jiwa kita selamanya. Mari manfaatkan sisa hari di bulan suci ini untuk lebih banyak berbagi. Semoga sisa Ramadhan ini benar-benar membawa kita semua pada kedamaian yang sejati.  

Penulis : Rizky Fernanda R, S. Pd

Editor : Achmad Mahbuby

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *