
Gema takbir mulai bersahut-sahutan di udara, memecah keheningan malam dan menandai berakhirnya perjalanan panjang kita di bulan suci. Ramadan resmi pamit. Namun, di balik kemeriahan kembang api dan aroma hidangan lebaran yang mulai tercium dari dapur, ada sebuah pertanyaan besar yang tertinggal di sudut hati: “Apa yang sebenarnya paling keras kita kejar selama sepuluh malam terakhir kemarin?”
Ramadan adalah bulan kompetisi spiritual, dan puncaknya ada pada sepuluh hari terakhir. Kita semua tahu, di sana terselip satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; Lailatul Qadar. Sebuah malam di mana satu amalan sederhana dikalikan dengan pahala ibadah selama 83 tahun lebih. Jika dipikir secara logika ekonomi, ini adalah penawaran investasi terbaik yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Tidak ada diskon, cashback, atau giveaway di dunia ini yang mampu menandingi “bonus” tersebut.
Ironi dNamun, mari kita jujur pada pemandangan yang kita lihat di sekitar kita (atau bahkan pada diri kita sendiri). Ketika Ramadan memasuki garis finish, fenomena unik terjadi. Di saat masjid-masjid seharusnya semakin penuh oleh para pencari Lailatul Qadar, shaf-shaf shalat tarawih justru sering kali tampak “maju” alias semakin kosong.
Ke mana perginya para jamaah? Sebagian besar mungkin sedang terjebak di tengah kerumunan mall atau sibuk memelototi layar smartphone. Ironisnya, malam yang nilainya lebih dari 1000 bulan itu sering kali kalah hype dengan tulisan merah menyala: “DISKON 70% – LAST DAY SALE!” di etalase toko.
Kita sering kali lebih sigap saat notifikasi HP berbunyi: “Flash sale dimulai!” Kita rela pasang alarm, begadang hingga jam 1 pagi, dan menahan kantuk demi memastikan keranjang belanjaan di marketplace berhasil di-check out. Namun, di saat yang sama, panggilan “Hayya ‘alal falah” (Mari menuju kemenangan) dari menara masjid terkadang kita anggap sebagai interupsi yang bisa ditunda.
Padahal kalau kita hitung menggunakan kalkulator logika, baju lebaran yang kita perebutkan itu paling hanya dipakai beberapa kali dalam setahun. Warnanya akan pudar, trennya akan berganti, dan ukurannya mungkin tak lagi muat tahun depan. Baju itu hanya bikin kita kelihatan keren di mata manusia selama beberapa jam di hari raya.
Sedangkan pahala Lailatul Qadar? Itu adalah tabungan akhirat yang nilainya tidak terbatas. Ia adalah investasi yang tidak mengenal inflasi dan tidak akan pernah hangus. Amal di malam itu adalah bekal yang akan menemani kita saat kita sendirian di alam kubur dan menjadi tiket keselamatan menuju surga.
Maka, Lailatul Qadar sebenarnya adalah “Flash Sale Pahala Terbesar”. Hanya satu malam dalam setahun. Durasi yang sangat singkat untuk hasil yang melampaui rata-rata umur manusia. Pertanyaannya, mengapa kita sering kali lebih bersemangat mengejar diskon pakaian daripada mengejar ampunan?
Sebuah Renungan di Malam Kemenangan
Malam takbiran ini adalah momen yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sedang merayakan kemenangan spiritual, atau hanya merayakan keberhasilan membeli barang-barang baru?
Baju baru memang sunnah untuk dipakai di hari raya sebagai bentuk syukur, namun ia bukanlah esensi dari Idulfitri itu sendiri. Kemenangan yang sejati adalah bagi mereka yang berhasil menundukkan egonya, yang tetap konsisten bersujud di saat orang lain sibuk berbelanja, dan yang tetap menjaga lisannya di saat orang lain sibuk bergunjing di keramaian pasar.
Mungkin kemarin kita sempat lalai. Mungkin di malam ke-27 atau ke-29, kita lebih sibuk scrolling katalog diskon daripada scrolling sajadah. Namun, Allah adalah Zat yang Maha Pengampun. Di malam takbiran ini, mari kita kencangkan lagi doa dan istighfar kita. Kita memohon agar amalan kita yang “compang-camping” itu tetap diterima oleh-Nya.
Penutup
Flash sale dunia hanya datang dalam hitungan jam dan akan berulang di tanggal-tanggal cantik lainnya. Namun, kesempatan bertemu Lailatul Qadar belum tentu datang lagi. Tidak ada jaminan bahwa kita masih diberi umur untuk bertemu dengan Ramadan tahun depan.
Malam ini, sebelum kita sibuk membalas pesan ucapan selamat lebaran atau memamerkan foto outfit terbaru di media sosial, mari kita tundukkan kepala sejenak. Syukuri kesempatan yang telah diberikan, dan bertekadlah agar semangat ibadah di bulan Ramadan tidak ikut “lebaran” atau berakhir begitu saja.
Semoga malam sederhana yang kita jalani dengan penuh takbir ini, menjadi saksi bahwa kita telah berusaha memberikan yang terbaik bagi akhirat kita. Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.
Penulis : Kharisma Riski Andita, S. Pd., Gr
Editor : Achmad Mahbuby
