
Bulan Ramadhan yang hadir setahun sekali selalu membawa berbagai momen yang ditunggu-tunggu. Di antara ibadah puasa, salat Tarawih, hingga berburu Lailatul Qadar, Buka Bersama (Bukber) menjadi salah satu agenda yang paling difavoritkan. Saking antusiasnya, banyak dari kita yang sudah menyusun jadwal dan ajakan bukber jauh sebelum Ramadhan tiba, baik untuk rekan kerja, alumni sekolah, circle terdekat, maupun keluarga besar.
Makna Silaturahmi yang Perlahan Bergeser
Idealnya, bukber adalah momen yang tepat untuk mempererat silaturahmi, saling bermaafan, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan agar kita bisa pulang dengan hati senang. Namun, belakangan ini makna tersebut perlahan terasa bergeser.
Bukber kini sering kali diwarnai keribetan menentukan outfit atau dresscode demi keperluan foto dan konten di TikTok, Instagram, hingga status WhatsApp. Tak heran, tempat yang dipilih pun wajib estetis dan instagramable. Tidak jarang, kita bahkan harus menyiapkan mental untuk menjawab “pertanyaan-pertanyaan sakral” seperti, “Sekarang kerja di mana?”, “Sudah punya mobil belum?”, hingga “Sudah punya rumah belum?”.
Belum lagi adanya tradisi foto wajib bersama hidangan; makanan tidak boleh disentuh sebelum difoto. Makan belum dimulai, tetapi konten sudah siap dan story media sosial sudah update duluan. Fenomena semacam ini sangat sering terjadi, terutama saat kita bukber bersama circle pertemanan atau reuni alumni.
Bukber, Trauma, dan Ajang Pembuktian
Bagi sebagian orang, pengalaman bukber bisa meninggalkan kesan yang kurang menyenangkan. Penulis sendiri pernah memiliki pengalaman sedikit traumatik saat mengikuti bukber alumni sekolah. Bukan karena masalah tempat atau dresscode, melainkan karena ada teman lama yang mulai membanding-bandingkan pencapaian. Saat itu, penulis masih berstatus mahasiswa, sementara yang lain sudah bekerja.
Sejak kejadian tersebut, penulis memilih absen dan menolak ajakan meet up serupa, mengingat kita memiliki hak untuk meng-cut pertemanan yang membuat diri tidak nyaman. Tanpa disadari, bukber yang awalnya berniat untuk silaturahmi malah berubah menjadi ajang pembuktian karir dan flexing tipis-tipis tentang siapa yang hidupnya terlihat paling “sukses”.
Mengapa pergeseran ini bisa terjadi? Bukber terasa makin menyerupai ajang flexing mungkin karena pengaruh derasnya konten media sosial, adanya dorongan untuk posting pencapaian hidup, atau sekadar ingin mengikuti tren yang sedang hype di momen tersebut.
Kembali ke Esensi Ramadhan
Padahal, Ramadhan sejatinya adalah momen untuk mengurangi ego, memperbanyak pahala, merefleksikan diri, serta memperbaiki hubungan dengan sesama. Bulan suci ini mengajarkan kita tentang nilai-nilai kesederhanaan, empati, dan ketulusan.
Bukber tidak harus digelar mewah demi memenuhi standar media sosial orang kebanyakan agar terasa berkesan. Sudah saatnya kita mengembalikan esensi bukber ke makna aslinya, yaitu duduk sejajar, tertawa bersama, dan berbagi cerita tanpa perlu membandingkan atau saling mengunggulkan pencapaian.
Pada akhirnya, hal yang paling berharga dari sebuah pertemuan bukanlah tempat yang mahal atau kemewahannya, melainkan kesan manis dan bermakna yang tertinggal setelahnya. Mari datang dengan hati ringan, makan dengan penuh rasa syukur, dan pulang tanpa overthinking.
Penulis : Galih Sudarwati
Editor : Achmad Mahbuby
