Kita tahu bersama, 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Namun, hal yang sering terjadi hanyalah sekadar acara seremoni biasa tanpa makna yang berarti. Anak-anak adalah generasi peradaban masa depan yang harus kita siapkan sedini mungkin. Momentum Hari Anak Nasional seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masa depan bangsa ada di genggaman anak-anak kita hari ini, sehingga jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah.  

Di era yang serba cepat ini, tantangan mendidik anak jauh lebih berat. Secara akses informasi memang jauh lebih cepat, tetapi di sisi lain pengaruh digitalisasi dapat menyebabkan degradasi akhlak. Tak dimungkiri, tuntutan orang tua terhadap anak masih tinggi; misalnya, masih banyak orang tua yang mengukur prestasi anak dari nilai rapor, juara 1, atau piala bergilir yang didapatkan. Ada satu pertanyaan penting yang jarang kita tanyakan: “Anaknya jadi orang seperti apa?” atau “Bagaimana adab anak kita?” Banyak orang pintar di negeri ini tetapi adabnya kurang, sehingga menggunakan kepintarannya untuk hal yang tidak baik. Jujur, yang perlu dipersiapkan saat ini adalah generasi yang cerdas dan beradab, bukan yang pintar tetapi tidak beradab.  

Adab lebih utama daripada ilmu. Bukan hal yang mudah untuk mewujudkan generasi yang berakhlak, tetapi bukan pula hal yang mustahil untuk diwujudkan. Semua membutuhkan kesadaran dan sinergisitas, baik dari orang tua, sekolah, maupun anak. Jangan sampai anak bisa menghafal beberapa juz Al-Qur’an tetapi membentak orang tua, atau anak bisa menjuarai olimpiade tetapi sombong. Belajar dari Rasulullah SAW, beliau diutus bukan hanya untuk mengajari hitung-hitungan. Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Apa Itu “Mengukir Akhlak”?

“Mengukir” artinya membutuhkan proses, kesabaran, dan pembiasaan yang diulang-ulang. Tidak bisa instan seperti kain yang diserahkan kepada penjahit untuk menjadi pakaian. Butuh kesadaran dan peran serta orang tua di rumah, karena pendidikan pertama anak dibentuk di rumah. Akhlak tidak dihafal, melainkan diteladani. Anak belajar dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita ceramahkan.  

Berikut contoh ikhtiar mengukir akhlak/adab pada anak:  

1. Mengajari anak untuk berbuat baik kepada siapa pun dan kapan pun.  

2. Mengajari anak mengucapkan “maaf” saat bersalah, bukan mencari pembenaran.  

3. Mengajari anak mengucapkan “minta tolong” dan tidak menyuruh dengan kasar.  

4. Mengajari anak sikap mengantre, jujur, dan amanah.  

5. Mengajari anak mengucapkan “terima kasih” kepada petugas kebersihan, bukan menganggapnya remeh.  

“Bagaimana dengan prestasi? Apakah prestasi tidak penting, atau prestasi tetap penting dan sangat penting?” Semua kembali pada pola pikir (mindset), bahwa prestasi bukan sebatas nilai, medali, atau piala yang diraih. Ibarat sebuah pohon, posisinya adalah “buah”, sedangkan adab/akhlak adalah “akar”. Ketika akhlak anak baik dan ia berilmu, hal itu akan menghasilkan prestasi yang berkah. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk untuk tawaduk.  

Sekarang, “apa PR kita sebagai guru di sekolah dan orang tua (guru di rumah)?” Semoga kita mulai sadar dan berperan lebih untuk menjadi teladan bagi mereka dalam bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kecerdasan mereka. Berhenti bertanya kepada mereka: “Ranking berapa, Nak?” dan mulai bertanya: “Hari ini kamu sudah menolong teman belum?”, “Hari ini kamu sudah berbuat baik kepada siapa?”.  

Berhenti bangga dengan: “Anak saya juara 1”, dan mulai bangga dengan: “Anak saya kalau disuruh salat langsung mengambil wudhu”, atau bangga dengan: “Anak saya kalau dibangunkan langsung semangat bangun karena sudah ingat tanggung jawab”.  

Sekolah bukan pabrik pencetak nilai, sekolah adalah bengkel karakter. Rumah bukan tempat les, rumah adalah madrasah pertama. Anak yang salih dan salihah adalah warisan yang sangat berharga bagi orang tua dan tabungan akhirat kelak. Mereka adalah titipan Allah yang paling berharga. Mereka bukan “orang dewasa dalam bentuk kecil”. Mereka adalah tunas yang butuh disiram, dipupuk, dan dijaga agar tumbuh lurus dan tangguh.  

10–15 tahun dari sekarang, mungkin orang tidak akan ingat anak kita pernah menjuarai lomba apa. Namun, orang akan selalu ingat: “Anak itu sopan. Anak itu amanah. Anak itu penolong.” Karena pada akhirnya nanti, ijazah akan lapuk dan piala akan berkarat, tetapi akhlak baiklah yang akan mengantarkannya ke surga dan doanya akan terus mengalir untuk kita.  

Mari Bapak dan Ibu Guru berkomitmen bersama:

“Mengajar bukan untuk mencetak juara. Kami mengajar untuk membersamai tumbuh kembang Ananda dengan kasih sayang yang tulus.”

Selamat Hari Anak Nasional 2026.

Editor: Achmad Mahbuby

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *