Lebaran adalah momen yang selalu dinanti-nantikan karena suasananya yang begitu menggembirakan. Di hari raya ini, kita bisa tampil keren dengan pakaian baru, disambut oleh deretan hidangan lezat seperti ketupat, opor ayam, dan menu khas lainnya yang tersaji rapi di meja makan. Suasana makin paripurna ketika seluruh anggota keluarga besar berkumpul, ditambah saudara-saudara dari jauh yang menyempatkan datang untuk bersilaturahmi. Ada kehangatan luar biasa yang umumnya hanya bisa kita rasakan satu kali dalam setahun.  

Tradisi kumpul keluarga dan makan bersama ini biasanya selalu diwarnai dengan obrolan santai dan lelucon-lelucon receh. Karakter orang saat kumpul pun macam-macam; ada yang senang bercerita soal karier, pendidikan, atau masalah asmara, ada yang suka melontarkan celetukan nyeleneh nan lucu, dan ada pula yang tipe pendiam karena lebih memilih fokus mendengarkan.  

Saya sendiri masuk ke dalam golongan orang pendiam yang hanya mendengarkan cerita saudara-saudara dan ikut tertawa saat ada celetukan yang lucu. Perkenalkan, nama saya Bagus Setiawan, seorang mahasiswa S2 keolahragaan di salah satu Universitas negeri di Solo yang tahun ini menginjak usia 26 tahun dengan status jomblo fisabilillah. Masalahnya, di usia saya yang makin dewasa ini, saudara-saudara sering kali melontarkan sebuah pertanyaan klasik saat kumpul Lebaran. Anda semua pasti sudah tahu apa pertanyaan ini: “Kapan nikah?”.  

Mendapat pertanyaan tajam seperti itu sering kali membuat kita kebingungan menjawabnya dan terpaksa berpikir keras tentang bagaimana harus menyikapinya. Respons kita serba salah. Apakah harus dijawab dengan nada marah padahal kita baru saja saling bermaaf-maafan, atau dijawab dengan senyuman meski pertanyaan itu menyinggung perasaan kita?. Atau, apakah kita harus meresponsnya dengan kesedihan karena memang ada rasa sedih belum menikah di tengah gempuran tren menikah muda?. Jujur saja, pertanyaan tersebut memang menyebalkan, tetapi kita tidak boleh membiarkan satu kalimat itu merusak 365 hari perjuangan kita.  

Oleh karena itu, ada beberapa cara santun sekaligus cerdik yang biasa saya gunakan untuk menyikapi pertanyaan tersebut. Kalau yang bertanya adalah kerabat yang usianya tidak jauh dari kita, jawablah dengan santai agar suasananya tidak kaku atau canggung, seperti: “Besok kalau nggak hujan ya,” atau “Aduh, belum ada aja perempuan yang cukup beruntung dapetin aku, wkwk”. Sebaliknya, untuk kerabat yang lebih tua, jawablah dengan serius namun tetap menunjukkan rasa hormat. Misalnya dengan berkata, “Lagi nyelesaiin kuliah dulu Om/Tante, biar fokusnya nggak kebagi-bagi,” atau dengan kalimat penuh keyakinan, “Insyaallah tahun depan Bude, ini sambil memantaskan diri dulu”.  

Namun, di balik tips komunikasi tersebut, saya menyadari sebuah substansi yang jauh lebih mendalam. Menikah bukanlah sebuah balapan lari, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan mental, finansial, dan spiritual. Menjalani kehidupan rumah tangga juga bukan hanya perihal kebahagiaan, sebab pasti akan ada banyak cobaan dan ujian yang harus dilewati nantinya. Karena alasan itulah, kita sangat butuh bekal ilmu agar mampu menyikapi badai rumah tangga dengan bijak, demi meminimalisir pertengkaran apalagi perpisahan—naudzubillah.  

Kita sebenarnya perlu memiliki rasa takut terhadap pernikahan, bukan berarti kita menjadi sama sekali tidak berani melangkah, tetapi agar kita sadar bahwa perkara sebesar itu wajib dipersiapkan dengan usaha yang paripurna. Menikahlah di saat kita sudah merasa yakin, bukan saat kita sedang mengejar pengakuan orang lain atau sedang mencari tempat pelarian. Mengapa demikian? Karena pernikahan adalah ibadah yang panjang, bukan ajang coba-coba ataupun ajang perlombaan. Keyakinan tersebut harus dibangun di atas ilmu, karena jika keyakinan telah mengakar, maka tidak ada lagi keraguan yang bisa menghalangi kita.  

Saya menyadari sebuah fakta penting: mengejar cinta dengan kondisi yang belum sama-sama siap sama saja dengan tindakan ‘bunuh diri’. Memaksakan keadaan tersebut pada akhirnya hanya akan menuai luka, kecewa, dan air mata.  

Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu. Masih sangat banyak ilmu kehidupan yang harus dipelajari, masih ada cita-cita yang harus dikejar, dan masih banyak karakter buruk dalam diri yang harus diperbaiki. Dan masih banyak yang perlu dipantaskan khususnya dihadapan Allah SWT. Wallahulam.

Jangan karena sudah nggak tahan hidup sendirian kita memutuskan untuk menikah, menikahlah kalau sudah benar-benar siap dan kita juga sudah tau tujuan kita menikah itu apa. Karena nikah itu tergantung keperluan dan keperluan setiap orang itu berbeda-beda. Pastikan kita nikah hanya 1 kali seumur hidup. Saya menemui banyak sekali orang mengalami kegagalan di pernikahan, karena mereka menikah bukan karena tujuan melainkan hanya untuk kesenangan.

Masih sendiri bukan berarti pecundang atau tak laku. Belum bukan berarti tidak. Jodoh sudah dijamin. Membuka pintu lewat pacaran tidak akan menjamin bahwa dia jodoh kita. Untuk apa tergesa-gesa sampai harus melanggar aturan-Nya. Tugas kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin tanpa keluar dari batasan yang Allah tetapkan.


Semangat untuk kalian yang sampai saat ini masih sendiri. Lebih baik sendiri dalam ketaatan daripada berpasangan dalam kemaksiatan. Kesendirian justru bernilai ketika ia dipilih agar tidak melanggar batasan yang Allah tetapkan. Ia dimuliakan ketika kita mengisinya dengan mempersiapkan diri, memantaskan pribadi, dan menjadi lebih baik untuk hari yang telah ditentukn. Tidak nikah-nikah lebih baik daripada salah nikah.

Penulis : Bagus Setiawan, S. Pd (Alumni MIM Digdaya Bolon)

Editor : Achmad Mahbuby

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *