Menjelang akhir bulan suci Ramadan, pusat perbelanjaan di kota kecil tempat Arga tinggal selalu penuh sesak oleh para pengunjung. Spanduk diskon besar-besaran tergantung di mana-mana, lagu-lagu religi diputar berulang kali menemani langkah orang-orang, dan etalase toko memamerkan berbagai model gamis serta kemeja koko terbaru. Namun, suasana meriah di luar sana terasa sedikit berbeda dengan suasana di rumah Arga yang sederhana. Sambil berdiri menatap lemarinya, Arga memperhatikan deretan pakaiannya dan mulai berpikir, apakah ia memang perlu memakai pakaian baru untuk menyambut Idul Fitri tahun ini?.

Sejak masih kecil, Arga selalu terbiasa mengenakan pakaian serba baru saat hari Lebaran tiba. Sang ibu selalu mengatakan kepadanya bahwa hari kemenangan harus dirayakan dengan cara yang istimewa. Ia masih mengingat betul betapa bangganya ia dulu ketika berangkat untuk salat Ied di pagi hari dengan mengenakan baju koko putih yang masih kaku karena baru saja dibeli, lalu dilanjutkan dengan bersilaturahmi ke rumah saudara-saudaranya. Sayangnya, tahun ini keadaannya sangat berbeda karena ayahnya baru saja kehilangan pekerjaan. Tabungan keluarga mereka pun semakin menipis karena harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari, ibunya bertanya dengan suara pelan, menawarkan apakah Arga ingin membeli baju baru untuk Lebaran. Arga hanya terdiam, sebab ia tahu betul bahwa pertanyaan itu bukan sekadar soal keinginan, melainkan tentang kemampuan finansial keluarganya. Di sisi lain, teman-temannya di sekolah sibuk membicarakan rencana membeli pakaian dan sepatu baru, sementara media sosial juga penuh dengan iklan diskon besar-besaran. Arga mungkin merasa minder, mengira bahwa sepupu-sepupunya nanti akan tampil dengan pakaian baru di acara keluarga, sementara ia hanya akan mengenakan pakaian lama. Saat membantu membungkus kue kering untuk dijual, Arga menatap tangan ibunya yang lelah namun masih tetap tersenyum. Sang ibu kemudian bernasihat bahwa yang terpenting saat Idul Fitri adalah hati yang bersih; meskipun pakaian baru itu menarik, hal itu tidaklah penting.

Arga merenungkan kata-kata ibunya tersebut dan teringat pada ceramah seorang ustaz di masjid. Ustaz itu mengatakan bahwa Idul Fitri adalah momen di mana orang kembali ke keadaan suci setelah berpuasa selama sebulan penuh. Kemenangan tidak tergantung pada pakaian yang dikenakan, melainkan tergantung pada kemampuan untuk menahan diri dan berperilaku dengan baik. Malam harinya, Arga kembali membuka lemarinya, memilih sebuah kemeja yang masih rapi, lalu menyetrikanya dengan hati-hati. Ia bahkan mencuci sepatunya agar penampilannya tampak lebih bersih. Saat tersenyum ke arah cermin, ia menyadari bahwa dengan sedikit usaha, pakaian lama pun bisa terlihat keren.

Hari Idul Fitri yang ditunggu pun semakin dekat, dan pagi harinya terasa begitu tenang. Saat tiba di lapangan tempat salat Ied, rasa mindernya sempat kembali muncul ketika melihat banyak orang mengenakan pakaian baru yang indah. Namun, perasaan itu perlahan hilang tergantikan oleh kedamaian ketika takbir berkumandang dan semua orang mulai bersalaman. Ia menikmati hangatnya pelukan saudara, tawa anak-anak kecil yang berlarian, dan kegembiraan bersama. Ketika bersilaturahmi ke rumah nenek, tidak ada seorang pun yang menanyakan apakah bajunya baru atau lama; mereka justru asyik membicarakan kabar, doa, dan harapan. Arga bahkan dipuji karena terlihat rapi dan dewasa.

Di penghujung hari, Arga menyadari sesuatu bahwa baju baru bukanlah kewajiban, melainkan sekadar pelengkap jika ada rezeki. Idul Fitri adalah tentang syukur, maaf, dan kebersamaan. Mengenakan pakaian terbaik memang sebuah sunnah yang baik, tetapi bukan ukuran sebuah kebahagiaan. Arga pun memahami jawabannya: baju baru saat Idul Fitri boleh saja, tetapi tidaklah perlu jika keadaan memang tidak memungkinkan. Hal yang paling penting adalah memiliki hati yang diperbarui—menjadi lebih bersih, lebih sabar, dan lebih peduli. Sejak saat itu, Arga menemukan makna kemenangan yang sesungguhnya dan tak lagi memandang Lebaran sebagai ajang pamer pakaian, melainkan sebagai momen untuk memperbaiki diri.

Penulis : Riska Agustina Tri Wulandari

Editor : Achmad Mahbuby

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *