
Ruang kelas masa kini telah berubah wujud secara drastis. Di era digital saat ini, informasi tersedia tanpa batas. Anak-anak dapat mengakses jutaan artikel, video pembelajaran, hingga kelas daring hanya melalui satu perangkat kecil di tangan mereka. Sebagai pendidik di lapangan, realitas yang kita hadapi setiap hari adalah melihat siswa-siswi yang begitu lekat dengan gawai. Dalam ruang kelas masa kini, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu. Perannya bergeser menjadi fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan pengetahuan sendiri.
Namun, di sinilah tantangan muncul. Derasnya arus informasi sering kali membuat anak didik kita kelebihan muatan. Membaca tidak lagi sekadar kemampuan teknis, melainkan keterampilan kritis. Iqra’ hari ini berarti mampu memilah informasi, membedakan fakta dan opini, serta tidak mudah terprovokasi oleh berita palsu. Sayangnya, pendidikan modern sering kali terjebak pada orientasi angka, nilai ujian, dan prestasi akademik semata. Padahal, pendidikan bukan lagi sekadar proses “mengisi gelas kosong”, melainkan menyalakan cahaya rasa ingin tahu. Di sinilah makna iqra’ di era modern menjadi hidup.
Lebih jauh dari sekadar menatap layar gawai, realitas spesifik di lapangan menuntut pendidikan untuk merambah ranah sosial. Iqra’ juga dapat dimaknai sebagai membaca kehidupan. Pendidikan modern yang ideal tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga kepekaan sosial. Membaca realitas sekitar seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial adalah bagian dari implementasi iqra’. Di sekolah, siswa diajak untuk peka terhadap persoalan masyarakat dan tergerak mencari solusi. Siswa diajak untuk bertanya, mengeksplorasi, dan berdiskusi, sehingga mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolahnya. Dengan demikian, ilmu tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir sebagai kontribusi nyata bagi peradaban.
Melihat fenomena di atas, kita perlu menarik pemahaman ini pada konsep yang lebih umum dan filosofis. Apa sebenarnya makna iqra’ dalam konteks pendidikan modern? Apakah sekadar membaca teks di atas kertas atau layar gawai? Ataukah ia memiliki makna yang lebih dalam dan luas?
Secara bahasa, iqra’ tidak hanya berarti membaca dalam arti verbal. Para ulama menjelaskan bahwa kata ini juga mengandung makna menelaah, meneliti, menghimpun, dan menyampaikan. Artinya, sejak awal Islam telah mendorong umatnya untuk aktif berpikir, mengkaji realitas, dan memproduksi ilmu. Dalam konteks Indonesia, semangat iqra’ sangat relevan untuk meningkatkan budaya literasi yang masih perlu diperkuat. Membaca bukan sekadar kewajiban sekolah, melainkan kebutuhan hidup. Pendidikan modern menuntut literasi digital, dan nilai iqra’ menjadi semakin relevan. Ketika anak terbiasa membaca, ia belajar berpikir sistematis. Ketika ia menulis, ia belajar menyampaikan gagasan. Ketika ia berdiskusi, ia belajar menghargai perbedaan. Semua itu adalah buah dari perintah sederhana: bacalah.
Jika kita merunut pada bingkai yang paling universal, fondasi dari semua pemaknaan ini bermula dari sejarah besar umat manusia. Kata pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah Iqra’—bacalah. Perintah itu tercatat dalam Surah Al-‘Alaq, tepatnya saat beliau menerima wahyu di Gua Hira. Jika direnungkan, turunnya kata “bacalah” sebagai pembuka risalah Islam bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah fondasi peradaban. Ia adalah penegasan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari proses membaca yaitu memahami, merenungi, dan mengolah pengetahuan.
Lebih jauh lagi, perintah iqra’ dalam Surah Al-‘Alaq tidak berdiri sendiri. Ayat tersebut dilanjutkan dengan kalimat “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”. Ini menegaskan makna universal bahwa aktivitas membaca dan belajar harus dilandasi nilai spiritual dan etika. Padahal, ruh dari iqra’ adalah kesadaran bahwa ilmu harus membawa manusia semakin mengenal Tuhannya dan semakin berakhlak mulia.
Akhirnya, iqra’ adalah panggilan untuk terus bertumbuh. Dalam konteks pendidikan modern, iqra’ dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Dunia berubah dengan cepat, teknologi berkembang, tantangan global bermunculan, kompetensi baru terus dibutuhkan. Pendidikan modern tidak cukup hanya mencetak lulusan, tetapi harus melahirkan pembelajar sejati. Dan pembelajar sejati adalah mereka yang menjadikan iqra’ sebagai napas hidupnya: membaca dengan kesadaran, belajar dengan kerendahan hati, dan mengamalkan ilmu dengan tanggung jawab.
Dari Gua Hira hingga ruang kelas digital abad ke-21, gema iqra’ tetap relevan. Ia bukan sekadar kata pembuka wahyu, melainkan kunci kemajuan umat manusia. Selama manusia masih mau membaca dengan akal yang jernih dan hati yang bersih, selama itu pula cahaya peradaban akan terus menyala. Dengan membaca maka wawasan akan terbuka lebar untuk melihat dunia, mari budayakan membaca baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga agar kita tidak tertinggal jauh oleh peradaban dunia.
Penulis : Aminatus Sayidah, S. Pd. I
Editor : Achmad Mahbuby

Benar sekali bu..
Sy sbg org tua juga hrs pintar2 dalam mendampingi anak dalam penggunaan gadget