Di tengah kedamaian desa yang terlindungi oleh perbukitan hijau, suara air yang mengalir lembut menyertai hembusan angin malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.15 saat Dzaka bersama kakaknya, Fyna, dan adiknya, Tri, berkumpul di musala kecil yang berdiri di belakang rumah mereka. Lantai beralaskan tikar anyaman bambu itu terasa hangat di telapak kaki, sementara lilin-lilin di sekeliling ruangan menerangi wajah-wajah yang memancarkan cahaya kekhusyukan. Mereka bersiap menyambut sepuluh malam terakhir bulan Ramadan—waktu yang dinantikan setiap tahun—ketika alam semesta dipercaya membuka pintu-pintu keberkahan, termasuk kehadiran malam yang lebih mulia dari seribu bulan: Malam Lailatul Qadar.  

“Sejak zaman Nabi Muhammad saw., umat Islam selalu menanti malam-malam suci ini dengan penuh harapan,” ujar Dzaka sambil membuka mushaf Al-Qur’an yang sudah diwariskan turun-temurun. Sampul kulit kitab suci itu sudah mengilap karena sering disentuh, dan setiap halamannya menyimpan rekam jejak doa serta zikir yang dilantunkan bertahun-tahun lamanya. “Lailatul Qadar bisa datang pada salah satu dari sepuluh malam terakhir ini, biasanya pada malam ganjil. Namun, kita tidak akan pernah tahu kapan waktu pastinya karena kebesaran-Nya tidak dapat ditebak oleh akal manusia.”  

Tri, yang baru berusia sebelas tahun, mengangguk sambil menatap kakaknya dengan mata penuh kekaguman. Sejak beberapa hari lalu, ia telah belajar tentang keutamaan malam suci ini dari guru agama di sekolahnya. Ia tahu bahwa pada malam tersebut, para malaikat—termasuk Malaikat Jibril—turun ke bumi membawa rahmat dan berkah, serta mencatat segala amal kebaikan hamba-hamba-Nya yang beriman.  

Ketiga bersaudara itu memulai ibadah dengan membaca surah Al-Fatihah bersama, lalu melanjutkannya dengan tilawah surah Al-Qadr yang meski hanya terdiri dari lima ayat, tetapi sarat akan makna mendalam. Lantunan ayat suci yang merdu dan syahdu mengalun ke luar musala, menyatu harmonis dengan gemericik air sungai yang mengalir tak jauh dari desa. Di langit, bulan purnama bersinar terang benderang, seolah turut menyaksikan setiap ibadah yang didirikan oleh tiga bersaudara bersahaja ini.  

Setelah tilawah, mereka menyambungnya dengan zikir dan doa. Fyna, sebagai kakak tertua, memimpin doa dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan. Ia memohon ampunan bagi seluruh umat Islam, kesembuhan bagi mereka yang sedang sakit, rezeki halal bagi yang dilanda kesusahan, dan keberkahan bagi generasi muda agar senantiasa berada di jalan yang lurus. Tri melihat mata kakaknya berkaca-kaca saat berdoa. Ia pun merasa tersentuh, seakan setiap bait doa itu langsung berlabuh di hati-Nya.  

Berjam-jam lamanya mereka tenggelam dalam ibadah. Sesekali mereka berhenti sejenak untuk meminum air putih hangat dan menyantap kurma yang telah disiapkan, lalu kembali melanjutkan ibadah dengan semangat yang baru. Rasa damai yang luar biasa menyelimuti setiap sudut musala, membuat dunia luar yang penuh hiruk-pikuk seolah tak pernah ada. Tri merasa hatinya menjadi jauh lebih tenang; segala kekhawatiran dan kesusahan yang pernah ia rasakan seakan terbang terbawa angin malam.  

Ketika semburat fajar mulai menyingsing dari balik perbukitan, mereka berdiri dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Meskipun tidak tahu pasti apakah malam itu benar-benar Malam Lailatul Qadar, mereka yakin bahwa setiap ibadah yang dijalankan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh akan mendapatkan balasan mulia. Bagi mereka, sepuluh malam terakhir bulan Ramadan bukan sekadar tentang memburu malam suci itu, melainkan juga sarana untuk memperdalam hubungan dengan Sang Pencipta, mempererat silaturahmi persaudaraan, dan menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang abadi.  
Penulis : Lambang Triarsotomo, S. Pd., Gr

Editor : Achmad Mahbuby

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *