Di tengah ramainya takjil kekinian seperti mango sago, puding manis, atau es boba yang harganya setara paket internet 5 GB seminggu, ada dua entitas yang posisinya tak tergoyahkan sebagai penguasa meja buka puasa: mendoan dan bakwan. Seperti yin dan yang, dua entitas tersebut seperti penyeimbang di atas piring takjil.

Waktu bedug Magrib bunyi, pencernaan kita sering kali nggak memanggil kurma ataupun sayur. Jiwa kita malah meronta-ronta minta kombinasi maut antara minyak panas, tepung terigu, dan penyedap rasa. Di sinilah mendoan dan bakwan turun tangan menjalankan tugas sucinya.  

Mendoan, dengan teksturnya yang lemas-lemas manja, sering banget diejek sebagai “tempe yang belum lulus sensor” gara-gara nggak garing. Tapi, justru di situlah letak keajaibannya; mendoan adalah lambang fleksibilitas. Dia bisa tampil sopan jadi lauk pendamping nasi, atau jadi camilan liar yang asyik dicocol ke sambal kecap pedas. Mendoan nggak butuh suara kriuk yang berisik. Ia cukup tampil hangat dan penuh kasih sayang (plus minyak yang meresap sempurna) buat menenangkan perut yang udah demo dari jam dua siang.  

Terus, ada bakwan sang “arsitek sayuran”. Di beberapa daerah, dia punya nama panggung lain kayak bala-bala atau ote-ote. Bakwan ini cara paling jenius buat umat manusia “menipu” diri sendiri supaya ngerasa udah makan sehat pas buka puasa.
“Ah, nggak apa-apa makan gorengan, kan isinya wortel sama kubis,” bisik hati kita yang penuh penyangkalan.

Padahal, persentase sayur di dalamnya sering kali kalah telak sama koloni tepung terigu yang digoreng sampai membentuk struktur yang bisa melukai langit-langit mulut kalau dimakan terlalu semangat. Biarpun begitu, bakwan adalah penyelamat ekonomi; cukup dua buah bakwan dan segelas teh manis, dunia rasanya udah ada di genggaman tangan.  

Kenapa Mereka Nggak Terkalahkan?  

Ada alasan sosiologis kenapa duet maut ini selalu menang di meja makan:  

Harganya Demokratis: Mendoan dan bakwan nggak pernah memandang kasta. Mereka selalu tersedia, mulai dari gerobak pinggir jalan yang abangnya menggoreng sambil curhat, sampai hotel berbintang yang ngasih nama keren “Crispy Vegetable Fritters” (yang otomatis menaikkan harganya juga).  

Jadi Perekat Sosial: Pernah nggak lihat orang berantem pas ada piring berisi mendoan hangat di tengah meja? Mustahil. Yang ada malah kompetisi adu cepat tangan buat ngambil potongan terakhir.  

Peredam Emosi: Setelah seharian nahan haus dan emosi lihat kelakuan orang-orang di sekitar kita, gigitan pertama pada bakwan yang garing adalah bentuk self-reward paling nyata dan murah meriah.  

Mungkin suatu saat nanti bakal ada makanan dari Mars yang mendarat di Bumi, tapi selama lidah kita masih terbuat dari otot yang kangen gurihnya MSG dan tekstur tepung, mendoan dan bakwan bakal tetap jadi raja dan ratu di meja buka puasa. Mereka ini warisan budaya yang lebih nyata daripada sekadar catatan sejarah; mereka adalah memori yang digoreng dalam kuali besar.  

Jadi, jangan pernah meremehkan kekuatan mendoan yang lemas atau bakwan yang tajam. Karena di balik lapisan minyaknya, ada kedamaian hati yang hakiki. Selamat berbuka, dan pastikan cabai rawitnya nggak ketinggalan!

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *